September 19, 2012

marah

Apa yang kuinginkan kadang tak sesuai dengan apa yang ada didalam kepalaku, apa yang kuimpikan kadang tak punya anak tangga yang kuat untuk menampung segalanya, apa yang kuharapkan kadang tak berbandinglurus dengan kenyataan yang ada didepan kedua mataku.

Aku hanya bisa menuliskan semua yang kurasakan, dengan segala emosi dan kekecewaan yang ada diujung jari-jari marahku. Lalu kemudian membukanya kembali dikemudian hari, saat hati tak lagi gundah… saat jiwa tak lagi gelisah…

Lalu tahukah apa yang terjadi saat aku membukanya lagi? Aku hanya akan tertawa mentertawakan diriku sendiri, mencemooh segala emosi yang tertulis dalam tulisan lamaku, dan tangan kananku menyentuh tombol bertuliskan “hapus”. Ya, “Hapus”… dan itulah yang selalu terjadi atas segala ungkapan emosi yang terjadi dalam hidupku. Tak perlu selalu dalam tulisan… aku selalu menghapusnya. Tak ada emosi yang panjang, segalanya hanya sesaat… lantas kemudian akan menghilang entah kemana karena pada akhirnya hanya ada tawa yang menyeruak dari dalam jiwaku.

Mimpiku sedang melesat terlalu tinggi tanpa membawaku turut serta, anganku sudah sampai diatas sana sementara kaki ini masih berpijak diatas tanah. Aku menunggu harapan datang menjemputku, tapi rupanya dia berbelok ke arah yang berbeda denganku. Kini aku berada dalam sebuah lingkaran yang kalian sebut "kebingungan", dia sedang asik mempermainkan diriku berenang-renang didalamnya. Entah sampai kapan akan begini, aku hanya ingin segalanya segera berakhir hingga harapan baru muncul dan berjalan beriringan denganku... Tanpa melakukan kesalahan yang sama seperti harapan-harapan sebelumnya.
Aku manusia biasa meski menyebut diriku adalah sahabat tembok dan pepohonan. Dan sekarang aku hanya ingin menulis tulisan ini sendirian tanpa berbicara dengan siapapun termasuk sahabat-sahabatku si tembok dan si pohon, lalu kemudian menghapusnya lagi suatu saat nanti… saat marah tak lagi menguasai pikiranku.

September 04, 2012

MULUT MU ADALAH PISAU MU

Melihat iklan salah satu operator telko yg meng-headline-kan pepatah "Mulutmu Harimaumu" berhasil menggugah gue (bukan terpancing untuk ikut2an beli tuh produk) utk mengkoreksi sejauh mana berbahayanya mulut gue. Disadari apa enggak, ternyata dari bagian tubuh gue yg gak bertulang ini, banyak org tersakiti. Ini adalah representasi zona pikir gue yg gak konek sama hati dan ucapan apa yg gue keluarkan dari mulut gue (tentunya bukan ludah, dahak, dan sisa makanan yg nyelip di gigi ehheheh...)
Harus gue akui, sebagai manusia yg kadang2 doyan ngobrol dan bercanda, tentu gue mengandalkan mulut gue buat memicu suasana. Sayangnya, terkadang gue gak bisa ngerem. Humor2 jorok a la parodi orang negro yg merupakan style gue, bisa jadi sebuah pisau yg mengiris2 hati org.
Bukan itu aja, dalam adu argumen kadang2 'kedangkalan' gue muncul tiba2 ; argumen berubah jadi makian. Kalo udah begini kayaknya gue gak perlu mencungkil bola mata atau menghajar lawan bicara gue supaya dia terluka. Cukup, berimprovisasi mengeluarkan bahasa neraka, gue rasa lidah gue jadi senjata yg paling tajam.
Gak salah deh ada salah satu hadist yg mengatakan "dua lubang yg akan menggiring manusia ke dalam neraka ada dua : mulut dan kelamin-nya". Di antara bagian tubuh manusia, apa yg dikeluarkan dari mulut adalah biang kerok, sumber masalah. Sekalipun si pemilik mulut tiada maksud melukai siapa pun.
Maklum, kalimat apa yg diucapkan sama yg diterima org lain kadang gak sama. Coba aja ucapin kata : "monyet lu" (salah satu frase favorit gue hehehe...). Mungkin gak semua org bisa nerima dirinya dibilang monyet, tapi ada juga meski cantik jelita, seorang cewek bisa nerima kata itu.
JAdi dimana letak masalahnya? Ucapan yg dikeluarkan apa org yg menerima ucapan tersebut? Duh, susah juga ye. Ini kembali ke karakter masing-masing orang. Kalo terkait ucapan, itu kembali lagi ke tujuan si pengucap ; dia itu pengen lukai orang apa enggak. Begitu pun si penerima ucapan ; dia itu sensian apa enggak. Bisa aja kan, kalo kita cuma bilang "Nyamuk", eh ternyata lawan bicara kita merasa kalimat itu menghinanya, bisa jadi doi sakit hati. Padahal niat kita cuma bilang di pipinya ada nyamuk gendut lagi nangkring.
Duh, kayaknya gak usah diperdebatkan dah, siapa yg salah antara yg 'punya mulut' sama yg 'punya hati'. Yang jelas, cukup dipahami aja, bahwa kalimat apa pun yg keluar dari mulut kita mengandung konsekuensi. Makanya kalo ngomong yg seperlunya dan jelas tujuannya. Kalo pengen bercanda liat dulu orangnya. Jangan kayak gue hahaha....
Kalo dari pengalaman gue, mungkin ada kali sekitar 4-5 temen gue yg migrasi menjadi musuh gue, cuma gara2 gak senang sama ucapan gue. Tapi gara2 mulut gue juga mereka akhirnya kembali jadi teman gue. Jadi, mulut itu sebenarnya organ yg fleksibel tergantung apa yg dikeluarkan.
Sebagai cowok pemalu, gue jadi malu sama diri gue sendiri. Kenapa ya gue susah banget jadi pendiam. Kalo diam paling kalo lagi gak ada duit, diputusin cewek, atau nahan boker. Makanya, sekarang ini gue agak berubah sama sosok gue di bangku SD.
Bukan 'sok' pengen ikutin Rasullulah yg selalu ngobrol seperlunya dan hal2 yg bermanfaat. Cuma kayaknya gue udah gak piawai lagi bercanda ala org utan. Apalagi sekarang kan gue udah gede.

MANUSIA ADALAH PENDOSA

Membaca judul blog ini, kemungkinan org akan beranggapan kalo gue mengutip dari textbook kajian agama atau sekedar aksi sok religius. Tapi gue sendiri mengkondisikan posting ini sebagai pengakuan atas iman gue yg kelak dipertanyakan. Jujur aja, betapa pun banyak maha karya Allah sebagai Tuhan Yang Esa di muka bumi ini, ternyata belum juga membuat gue melek atas kebesaran-Nya. Melewati beberapa Ramadhan, kondisi iman gue pun sepertinya gak bergeser dari status quo sebagai pendosa. Ramadhan yang terakhir pun, walau ibadah puasa gue gak jeblok, tampaknya banyak yg terlewatkan. Gue merasa masih jauh dari sempurna. Di antaranya ada hal-hal yg kurang baik tapi masih gue jalanin hingga sekarang…
Nah, jelang bulan Syawal ini, gue dikejutkan oleh berita meninggalnya seorang teman. Gue rasa, kisah ini menyadarkan gue supaya jgn puas dgn iman yg gue punya sekarang. Gue memang gak sempat melayat hingga prosesi perkuburan Alm karena tenggat kerja yg gila-gilaan. Tapi cerita dari seorang teman yg melayat, terkuak sebuah kuasa Allah.
Harus diakui, Alm memang sangat dekat dgn mabok-judi. Kalo sedang kumat, jangankan orangtua, Al-Qur’an pun menurut beberapa saksi pernah dirusak dan dilempar. Maaf, gue bukan bermaksud membongkar aib Alm, tapi tak ada salahnya kisah ini dijadikan cerminan hidup. Seperti di sinetron religius yang sekarang sudah mulai ngaco, sepanjang perjalanan mobil jenazah yg membawa jasad Alm selalu dihadang rintangan. Setiap tikungan pasti ada saja masalah, seperti ban bocor, nabrak gerobak bakso, hingga mesin yg tiba-tiba mati. Akhirnya jenasah dipindah ke mobil lain yg toh nasibnya sama juga. Terbilang 4 mobil yang mengalami hal ini.
Di sisa perjalanan jenasah terpaksa diangkut pakai gerobak tukang loak yg kebetulan lewat. Begitu sampai di gerbang pemakaman, cuaca yg sebelumnya cerah terang benderang mendadak gelap-gulita. Jenasah disambut hujan deras dan petir yg menggelegar. Dalam kondisi hujan deras, prosesi pemakaman tetap dilanjutkan, bahkan jenasah dikubur di lubang kubur yang sudah banjir. Herannya begitu jenasah berhasil dikubur dan dibacakan doa, cuaca langsung terang benderang. Tapi di dalam kubur Alm terdengar suara seperti batu dipukul-pukul. Beberapa pelayat termasuk teman gue menangis ketakutan menyaksikan peristiwa gaib ini. Bahkan kedua ortu Alm pingsan di tempat.
Gue akui, gue cukup menyesal tidak datang melayat. Bukan karena tidak kebagian menyaksikan ‘adegan aneh’ tersebut. Tapi alangkah baiknya jika gue mengantar jenasah org yg setidaknya pernah gue kenal. Meski gue ditawari video rekaman prosesi pemakaman yang mengerikan itu yang kebetulan sempat diabadikan oleh salah satu famili Alm, tapi gue gak tega. Cukuplah bagi gue kisah tersebut sebagai teguran atas apa yg telah gue jalani selama ini. Salah satu fakta mengerikan tentang pembalasan menjelang ajal, pernah gue saksikan ketika membacakan surat yasin untuk preman yg sedang sekarat. Dari tatapannya, tampak jelas sekali rasa takut yg amat sangat. Dia yang skrg telah meninggal beberapa tahun silam tampak tergetar dari ujung kaki-hingga kepala. Entah apa yang ditakutkan, tapi gue yakin begitulah ekspresi setiap manusia ketika menyaksikan ajalnya. Setelah hampir seharian mengalami sekarat, barulah Alm menghembuskan nafas terakhir.
Dari apa yg dialami, banyak yg berpendapat hal tersebut adalah derita yg tidak menyenangkan. Mengenai sakratul maut, setiap org pasti mati. Ini sudah qodratnya org yg pernah hidup. Dan kematian itu sangat menyakitkan. Bahkan, sesempurnanya iman Nabi Muhammad SAW, beliau ketika ajal menjemput sampai menangis kesakitan dan sempat memohon kepada Allah agar umat-Nya tidak mengalami derita yang sama. Lalu bagaimana dgn gue yg imannya pas2an? Subhannallah…
Jujur aja, gue bukan org yg gila mabok-judi (gak pernah malahan). Sebagai manusia gue gak luput dari dosa. Gue terkadang merasa sholat atau ibadah yg gue dirikan kurang handal menangkal perilaku iseng gue yg terkadang menyakiti orang lain. Di samping, sholat gue kurang kusyuk, ditambah suka ngulur2 waktu, dan bolong2 lagi.
Coba kita cermati, di dunia ini begitu gampang berbuat dosa, tapi tidak begitu sebaliknya. Gak heran, terkadang kala keinginan berbuat baik itu datang, kita dihadang oleh kemelut dalam diri sendiri maupun orang lain. Sementara kalo pengen maksiat, jalanan seolah lapang banget. Tak heran, setiap menit atau jam, bisa dibilang manusia adalah umat yg bergelimangan dosa. Terkecuali orang yang selalu berdzikir (percaya deh yg ini kian langka). Tapi, disinilah indahnya Islam. Disadari apa tidak, beruntunglah shalat 5 waktu menjadi salah satu rukun Islam. Betapa tidak, setiap hari sudah dipastikan kita berbuat salah dan dosa (naïf rasanya kalo ada yg bilang sehari gak melakukan dosa). Nah, fungsi sholat sangat efektif mencuci dosa kita. Ibaratnya, jika kita selalu bermain lumpur, maka badan akan tetap bersih karena kita mandi 5 kali sehari. Make sense, huh?
Dari ceramah yang pernah gue dengar, dosa setiap hari dapat dibersihkan lewat sholat 5 waktu; dosa sepanjang minggu akan diluluhkan lewat sholat jumat, dan dosa sepanjang tahun akan dirontokan dengan puasa ramadhan dan zakat. Jadi, sangat jelas sekali kalo sholat, puasa, dan zakat merupakan aktivitas pembersihan diri kita sebagai manusia yg tak pernah lepas dari dosa. Tapi sebenarnya Islam tidak mengenal ‘lembaga’ pencucian dosa. Kapan pun, sejauh orang itu memohon dgn sungguh2, penghapusan dosa bisa saja dilakukan dgn taubat nasuha. Jadi, tidak perlu menunggu momentum Ramadhan, sebenarnya dosa seseorang dapat terhapuskan dan diampuni, sejauh itu dilakukan dgn kesungguhan yg luar biasa. Tidakkah ini membuktikan bahwa Allah Maha Penyayang?

Say Don't Spray

Saat tangan kanan memberi, jangan biarkan tangan kiri mengetahuinya. Kini, ketika kedua tangan sibuk mengunggah status di Facebook, Twitter dan jejaring sosial lainnya, perlukah pepatah itu direvisi? Mari kita aku bersama, situs sosial telah mengubah kita jadi pengoceh ulung yang tidak segan menyebar serpihan kisah pribadi untuk konsumsi banyak orang. Dari hal yang paling sederhana seperti menu makan siang, sampai yang lebih kritis seperti pendapat atas isu pemerintahan. Sepertinya, tidak ada batasan tentang apa yang layak dan tidak layak untuk dibagikan. Semua seru. Semua fun. Namun semua berubah ketika negara ditimpa bencana. Status di dunia maya kemudian menjadi sesuatu yang serba membingungkan.

Masih masuk akalkan meng-update hal sepele macam hilangnya waktu karena kemacetan saat tahu bahwa ada saudara kita di Mentawai yang kehilangan orang terkasihnya? Wajarkah curhat kekecewaan atas seporsi sop buntut yang tidak enak ketika tahu di sekitar Merapi ada banyak pengungsi yang tidak bisa makan? Pantaskah menulis status bahagia saat banyak saudara kita terluka? Banyak yang harus di pertimbangkan.

Inilah saat sisi kemanusiaan kita diuji. Seharusnya kita bisa lebih sensitif saat menghadapi situasi memprihatinkan seperti ini. Di sisi lain ada yang berargumen bahwa kepedulian dan keprihatinan tidak perlu digembar-gemborkan. Jalani saja kehidupan dengan wajar sambil tetap berusaha membantu sebisanya. Bukankah lebih baik berbuat di dunia nyata ketimbang berteriak lantang di dunia maya? Seperti sebuah tweet yang tertulis: Nggak bahas soal bencana bukan berarti nggak peduli.

Anehnya, saat ada yang benar-benar turun tangan membantu korban Merapi dan melaporkannya lewat status, tidak sedikit yang menatap miring dengan praduga. Ketulusan mereka lalu dipertanyakan. Membantu orang kok pake lapor ke semua orang? Jangan-jangan cuma buat pencitraan? Contohnya adalah seorang penulis perempuan yang sampai harus mati-matian membela kesungguhannya ke Merapi. Ia memang merinci semua persiapan perjalanannya ke sana, dari kesulitan transportasi sampai perjuangan mencari masker yang akan disumbangkan. Setelah rentetan status itu, ia dituding melakukannya demi pamrih.

Kok serba salah? Padahal sebenarnya selama ini ia memang selalu sharing tentang banyak hal, termasuk kedekatannya dengan seorang laki-laki. Kalau kita bisa menikmati curhat percintaannya, kenapa kita enggan menerima saat ia curhat soal kepedulian sosialnya?

Persoalan membantu yang kesusahan memang personal, agak kurang penting buat di-share dengan semua orang. Itu sebuah argumen yang saya dapat dari seorang teman. Lalu apakan menu makan siang kita lebih penting? Apakah review teater musik yang baru saja ditonton lebih penting? Inikah batasan sharing di dunia maya? Semua hal oke selama itu bukan perkara sumbang menyumbang? Padahal status dunia maya soal bantuan itu bisa saja menggugah orang lain.

Saat ini sebagian banyak dari kita sungguh mudah berbagi soal kehidupan pribadi di dunia maya. Pasti akan sangat menyenangkan jika semangat ini sama hebatnya di kehidupan nyata. Sehingga persoalan di-update atau tidak nya status, saudara-saudara kita yang membutuhkan bisa segera terbantu dan dapat kembali menjalankan hidupnya. Jadi menjawab pertanyaan pada awal tulisan ini, mungkin sekarang ada pepatah yang lebih tepat. SAAT TANGAN KANAN MEMBERI, GUNAKAN TANGAN KIRI UNTUK MENG-UPDATE STATUS DI TWITTER DAN AJAK SEBANYAK-BANYAKNYA FOLLOWERS UNTUK IKUT BERAKSI DAN BERBAGI.

Keindahan Fisik bukan Kunci Kebahagiaan

Di sudut warnet, seorang siswi berseragam putih abu-abu, meminta ejaan yg benar mengenai nama salah satu artis yang sedang kondang kepada temannya yg berada di sebelahnya. Sepertinya, dia ingin mencari sesuatu tentang artis yg dimaksud lewat search engine. Benar saja, rupanya dia sedang "berburu" informasi mengenai si artis yg ternyata menggunakan nama belakang impor. Kalimat yg terlontar dari ucapan teman si siswi itu adalah. “Ah, dia kan orangnya sombong banget.” Kemudian, kalimat ini berlanjut, “Tapi cute banget sih orangnya. Indo gitu loh. Lo mau simpan fotonya di flash disk ya? Bagi gue dong.” Sebenernya, percakapan kedua siswi tersebut kurang menarik perhatian gue. Tapi setelah gue tahu siapa artis yg mereka perbincangkan, gue makin membenarkan. Sosok yang kini kian sering gue lihat di beberapa iklan ini adalah orang yg sombong dan sengak. Bahkan, lewat suatu acara talkshow yg membahas tentang "blasteran", dengan sombongnya dia menceritakan kalo dirinya keturunan ras ini-itu, dengan nada tinggi, seolah semua penonton mengerti dimana letak negeri yang dia sebut sebagai ras asalnya. Ditambah, secara "kurang ajar" dia menyebut dirinya "gue" bukan "saya" atau "aku", kepada presenter yg notabene umurnya terpaut 20 tahunan lebih tua. Entah lah, mungkin dia ingin memberikan kesan keren, dan sangat "Indo" kepada pemirsanya.

Memang membingungkan. Di tengah kesombongan yg terlihat jelas di layar kaca, si artis malah terus sering muncul di layar tersebut. Sebagai iklan dan line-up beberapa sinetron. Pemberitaan di media pun membenarnya bahwa dia termasuk artis "bertingkah". Anehnya, dia tetap mendapatkan simpati dari para produser dan penggemarnya. Meski dibalik itu, sinetron yg dia mainkan bermutu kacangan dan kata nyokap gue, acting dia gak bagus. Bisa dibilang, doi cuma modal tampang. Tambah heran, nyokap gue juga suka nonton sinetron yg dibintanginya hehe.

Menurut gue, dari apa yg berlangsung dan mungkin ada kesamaan dengan dunia selebriti kita yg banyak ulahnya namun dicintai penggemarnya, jelaslah bahwa keindahan fisik rupanya bisa menutupi kesan buruk seseorang. Itupun bukan di jagad hiburan saja. Di dunia nyata pun sering terjadi bahwa mereka-mereka yg ganteng cantik selalu dimudahkan dalam berbagai hal: pekerjaan, teman, dan kesempatan. Di dunia yg kita anggap modern ini, fisik menjadi asset yg penting dan "diperdagangkan".

Coba deh survai, perbandingan orang yg jelek sama yg enggak itu berapa banyaknya? "Komoditi" ini kian diperparah dengan perilaku konsumtif masyarakat kita dan dunia yg cenderung berfilosofi: produk boleh memble, tetapi bintang iklannya harus oke. Orang yg bertampang keren selalu mendapat "tempat" dalam segala hal. Keburukan sifat seseorang bukan hal yang penting jika dia itu memiliki fisik menawan.

Gue sangat ingat betul bagaimana mempunyai seorang teman yg sok cantik-sayangnya, dia memang cantik betulan-yg tampangnya gak berbanding lurus dengan sifat dan tingkah lakunya. Hal ini juga disadari betul oleh teman-teman gue yg lain, yg menilai dia itu sombong, pembohong, dan pandai bersilat lidah. Tapi kenyataannya, dalam pesta atau selamatan yg diadakan teman-temang gue yg lain, dia selalu menjadi "tamu terhormat". Seolah sebuah pesta tak berkesan tanpa kehadirannya. Meskipun yg datang disana harus "panas" kupingnya dengan celotehnya yg selalu membanggakan diri dan kebohongan-kebohongan yg klise.
Mengenai tampang, jujur aja, gue bukan orang yg seberuntung beberapa pesohor. Gue gak termasuk dalam jajaran orang keren dan cantik. Tapi gue merasa tetap bisa kok mendapatkan hal yg sama-meski dalam takaran yg berdeba dengan mereka. Gue bisa mudah dapat punya teman karena gue orangnya terbuka terhadap hal-hal baru dan selalu bersedia meluangkan waktu mendengarkan curhatan mereka.

Kuncinya, dalam bentuk apapun kita diciptakan, percayalah bahwa ini adalah yg terbaik. Setiap manusia dilahirkan lengkap dengan kekurangan dan kelebihan. Jadi sebenernya disini kelebihan yg jadi asset kita sebenernya bukan tampang. Karena tampang itu hanya bagian dari kelebihan kira sebagai manusia. Sebab ada orang yang memeliki kelebihan dari segi fisik, kecerdasan,kepribadian, dan sebagainya.

Intinya, gue enggak membenci orang-orang yang bertampang keren. Cuma aja, gue membenci cara mereka memanfaatkan kelebihan fisiknya karena memang seperti ini yang kebanyakan terjadi. Kejamnya era globalisasi tak menyadarkan mereka yg menjadi pion di lini konsumersime. Gue juga membenci cara pandang bahwa mereka adalah sosok yang "patut" tampil dan mendominasi segala hal. Hayo, berikan kesempatan kepada mereka-mereka yang memang lebih pantas. Jangan mengukur segala hal dari keindahan fisik belaka. Don't judge book by its cover.

Stop Hating Zayn Malik....

Beruntunglah menjadi orang yang Ekspresif

Saya justru sangat beruntung, ketika saya dapat mengeluarkan emosi, perasaan yang sedang saya rasakan. Pasalnya, beberapa teman saya mengalami kesulitan dalam mengungkapkan emosi yang mereka rasakan. Saya idak pernah tau apa yang menjadi sebabnya, mungkin saja ini merupakan sifat dasarnya yang pemalu, atau bisa jadi keadaan psikologis orang yang berbeda-beda dalam menghadapi atau menanggapi situasi yang menghampirinya. Ketika saya senang, saya dengan mudah akan tertawa, senyum sendiri, atau terkadang berlebihan senangnya (euphoria), ketika saya sedih saya dengan mudah pula akan menangis, ketika saya tidak suka juga sakay akan marah. Sewajarnya saya dapat merasakan dan meluapkan terhadap situasi yang ada, tentu saja dalam kadar yang tidak berlebihan. Ada beberapa teman gwe yang kadang sulit mengungkapkan apa yana dirasakan, dya mampu menahan tangis ketika sedih banget atau sebaliknya. Ini yang salah ada pada saya atau pada yang lain?? Mungkin banyak pula yang menilai saya terlalu sensitif, tapi saya beranggapan itu tidak benar karena saya mampu mengelurkan apa yang saya rasakan. Karena sejujurnya setelah itu, maka saya akan merasa lega tak ada yang perlu ditahan.. Saya memang cnengeng... yayayayayaya.. terserah anda menilaninya, tapi saya beruntung menjadi orang yang ekspresif.

Q&A


About You 
1. Paling sering dipanggil apa sama temen-temen? - bondol-_-
2. Makanan kesukaan kamu apa? - apa aja selain Pisang-_-
3. Kalo lagi free time, biasanya apa yang kamu lakuin? - Blogging
4. Jam tidur kamu sehari berapa jam? - kalo bisa pengen 24 jam._.
5. Acara televisi favorite kamu apa? - anything with comedy&music

About You and Your Partner 
1. Siapa dia dan udah berapa lama jadian sama si dia? - saya single :p
2. Kapan pertama deket sama dia? - dia siapa? hehehe kelas 8 bro
3. Film terakhir yang kalian tonton apa? -kepo ih
4. Tempat favorite kalian dimana? Dan kenapa? - dimana-mana hatiku senang :)
5. Apa bagian tubuh dia yang paling kamu suka? - everything about him

About Your School 
1. Kelas berapa sekarang? - 9 dong :p
2. Pelajaran yang paling kamu suka apa? - english+biology
3. Apa hal yang paling sering kamu ucapin kalo disekolah? - "o" cukup?, yaudah, yakali
4. Temen sebangku kamu siapa? - Dita Larasati
5. Dikelas paling sering ngobrol sama siapa? - Tasya, Miranda, Yasmin, Farha, Reni, Dita, Ayala

About You and Your Friend 
1. Siapa best of bestfriend kamu? - bocah-bocah bondollllll
2. Siapa temen yang paling sering diminta buat dengerin curhatan kamu? - Gita!
3. Lebih suka temenan sama orang yang kayak gimana? - asik, bisa diajak bercanda, ngasih solusi kalo gue ada masalah, jujur
4. Paling sering hang out kemana sama temen? - kemana-mana hati ku senang :)
5. Temen sama sahabat itu sama atau beda sih? - beda. "temen" ada lima kata, kalo "sahabat" ada 7._.

About A Few Minutes Ago
1. Makanan yang terakhir dimakan? - kerupuk  wk
2. Minuman yang terakhir diminum? - air mineral
3. Siapa yang terakhir sms kamu? - hmmm Salemba Group ._.
4. Kapan terakhir mandi? - tadi sore
5. Kapan terakhir keramas? - tadi sore

About This Time
1. Apa warna baju yang kamu pakai? - pink
 2. Aktivitas yang kamu lakukan sekarang? - blogging
3. Apa benda yang paling deket dengan posisi kamu sekarang? - HP, netbook, bantal guling
4. Siapa orang yang lagi deket sama posisi kamu sekarang? - alone just with myself :("
5. Apa barang yang lagi kamu pegang? - Netbook

 About Something
1. Apa kejutan yang paling kamu suka yang pernah kamu alami? - surprise my 14th birthday dari temen2 walupun lagi puasa
2. Apa benda kesayangan kamu? - semua benda yang bersangkutan dengan 1D, hp, netbook, modem._.
3. Barang apa yang gak pernah kamu lupa bawa kemanapun kamu pergi? - i just cant go anywhere without my handphone
4. Tokoh kartun favorite kamu apa? - Jimmy Neutron 
5. Siapa aktor atau aktris favorite kamu? - David Hanrie, Jake Austin, Josh H