September 04, 2012

Keindahan Fisik bukan Kunci Kebahagiaan

Di sudut warnet, seorang siswi berseragam putih abu-abu, meminta ejaan yg benar mengenai nama salah satu artis yang sedang kondang kepada temannya yg berada di sebelahnya. Sepertinya, dia ingin mencari sesuatu tentang artis yg dimaksud lewat search engine. Benar saja, rupanya dia sedang "berburu" informasi mengenai si artis yg ternyata menggunakan nama belakang impor. Kalimat yg terlontar dari ucapan teman si siswi itu adalah. “Ah, dia kan orangnya sombong banget.” Kemudian, kalimat ini berlanjut, “Tapi cute banget sih orangnya. Indo gitu loh. Lo mau simpan fotonya di flash disk ya? Bagi gue dong.” Sebenernya, percakapan kedua siswi tersebut kurang menarik perhatian gue. Tapi setelah gue tahu siapa artis yg mereka perbincangkan, gue makin membenarkan. Sosok yang kini kian sering gue lihat di beberapa iklan ini adalah orang yg sombong dan sengak. Bahkan, lewat suatu acara talkshow yg membahas tentang "blasteran", dengan sombongnya dia menceritakan kalo dirinya keturunan ras ini-itu, dengan nada tinggi, seolah semua penonton mengerti dimana letak negeri yang dia sebut sebagai ras asalnya. Ditambah, secara "kurang ajar" dia menyebut dirinya "gue" bukan "saya" atau "aku", kepada presenter yg notabene umurnya terpaut 20 tahunan lebih tua. Entah lah, mungkin dia ingin memberikan kesan keren, dan sangat "Indo" kepada pemirsanya.

Memang membingungkan. Di tengah kesombongan yg terlihat jelas di layar kaca, si artis malah terus sering muncul di layar tersebut. Sebagai iklan dan line-up beberapa sinetron. Pemberitaan di media pun membenarnya bahwa dia termasuk artis "bertingkah". Anehnya, dia tetap mendapatkan simpati dari para produser dan penggemarnya. Meski dibalik itu, sinetron yg dia mainkan bermutu kacangan dan kata nyokap gue, acting dia gak bagus. Bisa dibilang, doi cuma modal tampang. Tambah heran, nyokap gue juga suka nonton sinetron yg dibintanginya hehe.

Menurut gue, dari apa yg berlangsung dan mungkin ada kesamaan dengan dunia selebriti kita yg banyak ulahnya namun dicintai penggemarnya, jelaslah bahwa keindahan fisik rupanya bisa menutupi kesan buruk seseorang. Itupun bukan di jagad hiburan saja. Di dunia nyata pun sering terjadi bahwa mereka-mereka yg ganteng cantik selalu dimudahkan dalam berbagai hal: pekerjaan, teman, dan kesempatan. Di dunia yg kita anggap modern ini, fisik menjadi asset yg penting dan "diperdagangkan".

Coba deh survai, perbandingan orang yg jelek sama yg enggak itu berapa banyaknya? "Komoditi" ini kian diperparah dengan perilaku konsumtif masyarakat kita dan dunia yg cenderung berfilosofi: produk boleh memble, tetapi bintang iklannya harus oke. Orang yg bertampang keren selalu mendapat "tempat" dalam segala hal. Keburukan sifat seseorang bukan hal yang penting jika dia itu memiliki fisik menawan.

Gue sangat ingat betul bagaimana mempunyai seorang teman yg sok cantik-sayangnya, dia memang cantik betulan-yg tampangnya gak berbanding lurus dengan sifat dan tingkah lakunya. Hal ini juga disadari betul oleh teman-teman gue yg lain, yg menilai dia itu sombong, pembohong, dan pandai bersilat lidah. Tapi kenyataannya, dalam pesta atau selamatan yg diadakan teman-temang gue yg lain, dia selalu menjadi "tamu terhormat". Seolah sebuah pesta tak berkesan tanpa kehadirannya. Meskipun yg datang disana harus "panas" kupingnya dengan celotehnya yg selalu membanggakan diri dan kebohongan-kebohongan yg klise.
Mengenai tampang, jujur aja, gue bukan orang yg seberuntung beberapa pesohor. Gue gak termasuk dalam jajaran orang keren dan cantik. Tapi gue merasa tetap bisa kok mendapatkan hal yg sama-meski dalam takaran yg berdeba dengan mereka. Gue bisa mudah dapat punya teman karena gue orangnya terbuka terhadap hal-hal baru dan selalu bersedia meluangkan waktu mendengarkan curhatan mereka.

Kuncinya, dalam bentuk apapun kita diciptakan, percayalah bahwa ini adalah yg terbaik. Setiap manusia dilahirkan lengkap dengan kekurangan dan kelebihan. Jadi sebenernya disini kelebihan yg jadi asset kita sebenernya bukan tampang. Karena tampang itu hanya bagian dari kelebihan kira sebagai manusia. Sebab ada orang yang memeliki kelebihan dari segi fisik, kecerdasan,kepribadian, dan sebagainya.

Intinya, gue enggak membenci orang-orang yang bertampang keren. Cuma aja, gue membenci cara mereka memanfaatkan kelebihan fisiknya karena memang seperti ini yang kebanyakan terjadi. Kejamnya era globalisasi tak menyadarkan mereka yg menjadi pion di lini konsumersime. Gue juga membenci cara pandang bahwa mereka adalah sosok yang "patut" tampil dan mendominasi segala hal. Hayo, berikan kesempatan kepada mereka-mereka yang memang lebih pantas. Jangan mengukur segala hal dari keindahan fisik belaka. Don't judge book by its cover.