September 04, 2012

MANUSIA ADALAH PENDOSA

Membaca judul blog ini, kemungkinan org akan beranggapan kalo gue mengutip dari textbook kajian agama atau sekedar aksi sok religius. Tapi gue sendiri mengkondisikan posting ini sebagai pengakuan atas iman gue yg kelak dipertanyakan. Jujur aja, betapa pun banyak maha karya Allah sebagai Tuhan Yang Esa di muka bumi ini, ternyata belum juga membuat gue melek atas kebesaran-Nya. Melewati beberapa Ramadhan, kondisi iman gue pun sepertinya gak bergeser dari status quo sebagai pendosa. Ramadhan yang terakhir pun, walau ibadah puasa gue gak jeblok, tampaknya banyak yg terlewatkan. Gue merasa masih jauh dari sempurna. Di antaranya ada hal-hal yg kurang baik tapi masih gue jalanin hingga sekarang…
Nah, jelang bulan Syawal ini, gue dikejutkan oleh berita meninggalnya seorang teman. Gue rasa, kisah ini menyadarkan gue supaya jgn puas dgn iman yg gue punya sekarang. Gue memang gak sempat melayat hingga prosesi perkuburan Alm karena tenggat kerja yg gila-gilaan. Tapi cerita dari seorang teman yg melayat, terkuak sebuah kuasa Allah.
Harus diakui, Alm memang sangat dekat dgn mabok-judi. Kalo sedang kumat, jangankan orangtua, Al-Qur’an pun menurut beberapa saksi pernah dirusak dan dilempar. Maaf, gue bukan bermaksud membongkar aib Alm, tapi tak ada salahnya kisah ini dijadikan cerminan hidup. Seperti di sinetron religius yang sekarang sudah mulai ngaco, sepanjang perjalanan mobil jenazah yg membawa jasad Alm selalu dihadang rintangan. Setiap tikungan pasti ada saja masalah, seperti ban bocor, nabrak gerobak bakso, hingga mesin yg tiba-tiba mati. Akhirnya jenasah dipindah ke mobil lain yg toh nasibnya sama juga. Terbilang 4 mobil yang mengalami hal ini.
Di sisa perjalanan jenasah terpaksa diangkut pakai gerobak tukang loak yg kebetulan lewat. Begitu sampai di gerbang pemakaman, cuaca yg sebelumnya cerah terang benderang mendadak gelap-gulita. Jenasah disambut hujan deras dan petir yg menggelegar. Dalam kondisi hujan deras, prosesi pemakaman tetap dilanjutkan, bahkan jenasah dikubur di lubang kubur yang sudah banjir. Herannya begitu jenasah berhasil dikubur dan dibacakan doa, cuaca langsung terang benderang. Tapi di dalam kubur Alm terdengar suara seperti batu dipukul-pukul. Beberapa pelayat termasuk teman gue menangis ketakutan menyaksikan peristiwa gaib ini. Bahkan kedua ortu Alm pingsan di tempat.
Gue akui, gue cukup menyesal tidak datang melayat. Bukan karena tidak kebagian menyaksikan ‘adegan aneh’ tersebut. Tapi alangkah baiknya jika gue mengantar jenasah org yg setidaknya pernah gue kenal. Meski gue ditawari video rekaman prosesi pemakaman yang mengerikan itu yang kebetulan sempat diabadikan oleh salah satu famili Alm, tapi gue gak tega. Cukuplah bagi gue kisah tersebut sebagai teguran atas apa yg telah gue jalani selama ini. Salah satu fakta mengerikan tentang pembalasan menjelang ajal, pernah gue saksikan ketika membacakan surat yasin untuk preman yg sedang sekarat. Dari tatapannya, tampak jelas sekali rasa takut yg amat sangat. Dia yang skrg telah meninggal beberapa tahun silam tampak tergetar dari ujung kaki-hingga kepala. Entah apa yang ditakutkan, tapi gue yakin begitulah ekspresi setiap manusia ketika menyaksikan ajalnya. Setelah hampir seharian mengalami sekarat, barulah Alm menghembuskan nafas terakhir.
Dari apa yg dialami, banyak yg berpendapat hal tersebut adalah derita yg tidak menyenangkan. Mengenai sakratul maut, setiap org pasti mati. Ini sudah qodratnya org yg pernah hidup. Dan kematian itu sangat menyakitkan. Bahkan, sesempurnanya iman Nabi Muhammad SAW, beliau ketika ajal menjemput sampai menangis kesakitan dan sempat memohon kepada Allah agar umat-Nya tidak mengalami derita yang sama. Lalu bagaimana dgn gue yg imannya pas2an? Subhannallah…
Jujur aja, gue bukan org yg gila mabok-judi (gak pernah malahan). Sebagai manusia gue gak luput dari dosa. Gue terkadang merasa sholat atau ibadah yg gue dirikan kurang handal menangkal perilaku iseng gue yg terkadang menyakiti orang lain. Di samping, sholat gue kurang kusyuk, ditambah suka ngulur2 waktu, dan bolong2 lagi.
Coba kita cermati, di dunia ini begitu gampang berbuat dosa, tapi tidak begitu sebaliknya. Gak heran, terkadang kala keinginan berbuat baik itu datang, kita dihadang oleh kemelut dalam diri sendiri maupun orang lain. Sementara kalo pengen maksiat, jalanan seolah lapang banget. Tak heran, setiap menit atau jam, bisa dibilang manusia adalah umat yg bergelimangan dosa. Terkecuali orang yang selalu berdzikir (percaya deh yg ini kian langka). Tapi, disinilah indahnya Islam. Disadari apa tidak, beruntunglah shalat 5 waktu menjadi salah satu rukun Islam. Betapa tidak, setiap hari sudah dipastikan kita berbuat salah dan dosa (naïf rasanya kalo ada yg bilang sehari gak melakukan dosa). Nah, fungsi sholat sangat efektif mencuci dosa kita. Ibaratnya, jika kita selalu bermain lumpur, maka badan akan tetap bersih karena kita mandi 5 kali sehari. Make sense, huh?
Dari ceramah yang pernah gue dengar, dosa setiap hari dapat dibersihkan lewat sholat 5 waktu; dosa sepanjang minggu akan diluluhkan lewat sholat jumat, dan dosa sepanjang tahun akan dirontokan dengan puasa ramadhan dan zakat. Jadi, sangat jelas sekali kalo sholat, puasa, dan zakat merupakan aktivitas pembersihan diri kita sebagai manusia yg tak pernah lepas dari dosa. Tapi sebenarnya Islam tidak mengenal ‘lembaga’ pencucian dosa. Kapan pun, sejauh orang itu memohon dgn sungguh2, penghapusan dosa bisa saja dilakukan dgn taubat nasuha. Jadi, tidak perlu menunggu momentum Ramadhan, sebenarnya dosa seseorang dapat terhapuskan dan diampuni, sejauh itu dilakukan dgn kesungguhan yg luar biasa. Tidakkah ini membuktikan bahwa Allah Maha Penyayang?