September 19, 2012

marah

Apa yang kuinginkan kadang tak sesuai dengan apa yang ada didalam kepalaku, apa yang kuimpikan kadang tak punya anak tangga yang kuat untuk menampung segalanya, apa yang kuharapkan kadang tak berbandinglurus dengan kenyataan yang ada didepan kedua mataku.

Aku hanya bisa menuliskan semua yang kurasakan, dengan segala emosi dan kekecewaan yang ada diujung jari-jari marahku. Lalu kemudian membukanya kembali dikemudian hari, saat hati tak lagi gundah… saat jiwa tak lagi gelisah…

Lalu tahukah apa yang terjadi saat aku membukanya lagi? Aku hanya akan tertawa mentertawakan diriku sendiri, mencemooh segala emosi yang tertulis dalam tulisan lamaku, dan tangan kananku menyentuh tombol bertuliskan “hapus”. Ya, “Hapus”… dan itulah yang selalu terjadi atas segala ungkapan emosi yang terjadi dalam hidupku. Tak perlu selalu dalam tulisan… aku selalu menghapusnya. Tak ada emosi yang panjang, segalanya hanya sesaat… lantas kemudian akan menghilang entah kemana karena pada akhirnya hanya ada tawa yang menyeruak dari dalam jiwaku.

Mimpiku sedang melesat terlalu tinggi tanpa membawaku turut serta, anganku sudah sampai diatas sana sementara kaki ini masih berpijak diatas tanah. Aku menunggu harapan datang menjemputku, tapi rupanya dia berbelok ke arah yang berbeda denganku. Kini aku berada dalam sebuah lingkaran yang kalian sebut "kebingungan", dia sedang asik mempermainkan diriku berenang-renang didalamnya. Entah sampai kapan akan begini, aku hanya ingin segalanya segera berakhir hingga harapan baru muncul dan berjalan beriringan denganku... Tanpa melakukan kesalahan yang sama seperti harapan-harapan sebelumnya.
Aku manusia biasa meski menyebut diriku adalah sahabat tembok dan pepohonan. Dan sekarang aku hanya ingin menulis tulisan ini sendirian tanpa berbicara dengan siapapun termasuk sahabat-sahabatku si tembok dan si pohon, lalu kemudian menghapusnya lagi suatu saat nanti… saat marah tak lagi menguasai pikiranku.