September 04, 2012

Say Don't Spray

Saat tangan kanan memberi, jangan biarkan tangan kiri mengetahuinya. Kini, ketika kedua tangan sibuk mengunggah status di Facebook, Twitter dan jejaring sosial lainnya, perlukah pepatah itu direvisi? Mari kita aku bersama, situs sosial telah mengubah kita jadi pengoceh ulung yang tidak segan menyebar serpihan kisah pribadi untuk konsumsi banyak orang. Dari hal yang paling sederhana seperti menu makan siang, sampai yang lebih kritis seperti pendapat atas isu pemerintahan. Sepertinya, tidak ada batasan tentang apa yang layak dan tidak layak untuk dibagikan. Semua seru. Semua fun. Namun semua berubah ketika negara ditimpa bencana. Status di dunia maya kemudian menjadi sesuatu yang serba membingungkan.

Masih masuk akalkan meng-update hal sepele macam hilangnya waktu karena kemacetan saat tahu bahwa ada saudara kita di Mentawai yang kehilangan orang terkasihnya? Wajarkah curhat kekecewaan atas seporsi sop buntut yang tidak enak ketika tahu di sekitar Merapi ada banyak pengungsi yang tidak bisa makan? Pantaskah menulis status bahagia saat banyak saudara kita terluka? Banyak yang harus di pertimbangkan.

Inilah saat sisi kemanusiaan kita diuji. Seharusnya kita bisa lebih sensitif saat menghadapi situasi memprihatinkan seperti ini. Di sisi lain ada yang berargumen bahwa kepedulian dan keprihatinan tidak perlu digembar-gemborkan. Jalani saja kehidupan dengan wajar sambil tetap berusaha membantu sebisanya. Bukankah lebih baik berbuat di dunia nyata ketimbang berteriak lantang di dunia maya? Seperti sebuah tweet yang tertulis: Nggak bahas soal bencana bukan berarti nggak peduli.

Anehnya, saat ada yang benar-benar turun tangan membantu korban Merapi dan melaporkannya lewat status, tidak sedikit yang menatap miring dengan praduga. Ketulusan mereka lalu dipertanyakan. Membantu orang kok pake lapor ke semua orang? Jangan-jangan cuma buat pencitraan? Contohnya adalah seorang penulis perempuan yang sampai harus mati-matian membela kesungguhannya ke Merapi. Ia memang merinci semua persiapan perjalanannya ke sana, dari kesulitan transportasi sampai perjuangan mencari masker yang akan disumbangkan. Setelah rentetan status itu, ia dituding melakukannya demi pamrih.

Kok serba salah? Padahal sebenarnya selama ini ia memang selalu sharing tentang banyak hal, termasuk kedekatannya dengan seorang laki-laki. Kalau kita bisa menikmati curhat percintaannya, kenapa kita enggan menerima saat ia curhat soal kepedulian sosialnya?

Persoalan membantu yang kesusahan memang personal, agak kurang penting buat di-share dengan semua orang. Itu sebuah argumen yang saya dapat dari seorang teman. Lalu apakan menu makan siang kita lebih penting? Apakah review teater musik yang baru saja ditonton lebih penting? Inikah batasan sharing di dunia maya? Semua hal oke selama itu bukan perkara sumbang menyumbang? Padahal status dunia maya soal bantuan itu bisa saja menggugah orang lain.

Saat ini sebagian banyak dari kita sungguh mudah berbagi soal kehidupan pribadi di dunia maya. Pasti akan sangat menyenangkan jika semangat ini sama hebatnya di kehidupan nyata. Sehingga persoalan di-update atau tidak nya status, saudara-saudara kita yang membutuhkan bisa segera terbantu dan dapat kembali menjalankan hidupnya. Jadi menjawab pertanyaan pada awal tulisan ini, mungkin sekarang ada pepatah yang lebih tepat. SAAT TANGAN KANAN MEMBERI, GUNAKAN TANGAN KIRI UNTUK MENG-UPDATE STATUS DI TWITTER DAN AJAK SEBANYAK-BANYAKNYA FOLLOWERS UNTUK IKUT BERAKSI DAN BERBAGI.